Friday, 03 February 2017 00:00

Sri Mulyani Sindir Pengusaha Yang Belum Bayar Pajak

Written by  Redaksi

(Foto: A. Ainul Ghurri/Kemenkeu rapat terbatas dengan Dirjen Pajak Pusat)

 

Jakarta, Laporannews – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, secara terbuka menyinggung kepada para pengusaha yang memiliki penghasilan tinggi tapi tidak membayar pajak. Pasalnya, pemerintah sedang berupaya mentargetkan penerimaan pajak nasional.

"Bedanya penghasilan saya dan Anda (pengusaha) seperseratus. Kalau Anda sudah overpaid, tidak bayar pajak pula," sindirnya di Gedung Apindo, Kuningan Jakarta. Jumat, (3/02).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, yang menjadi perhatian khusus bagi institusi Kementerian Keuangan yaitu APBN. Pasalnya, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) menjadi instrumen bagi pembangunan di Indonesia.

“Oleh karena itu tahun 2017 saya akan mengatakan kita harus gunakan semua instrumen, APBN adalah instrumen yang penting," imbuhnya.

Ia mengaku, realisasi penerimaan pajak sejak 2014 tidak tercapai. Lanjutnya, ada kekurangan penerimaan pajak Rp 100 triliun di 2014 dan Rp 248 triliun pada 2015. sedangkan kekurangan penerimaan pajak sebesar Rp 218 triliun di APBN-P 2016 akibat target terlalu tinggi, sehingga belanja negara perlu dipotong.

"Makanya tema saya saat jadi Menkeu, back to kredibilitas. Karena APBN ‎adalah satu satu informasi penting," ujarnya.

Mantan Menteri Era SBY-JK itu menjelaskan, data rasio pajak di Indonesia lebih rendah ‎dibanding Malaysia dan Thailand. Negara tetangga itu, mampu mencatatkan rasio pajak 15% pada PDB. Sementara rasio pajak di Indonesia baru 11%. Oleh karena itu, ia menegaskan kepada para pengusaha yang mempunyai kewajiban membayar pajak, agar segera mengurus pajak nasional.

"‎Kalau kita tidak bisa mengumpulkan penerimaan pajak, saya tidak bisa mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur, membayar gaji guru dan polisi, dan lainnya. Kalau ini terjadi, bisa menjadi masalah, akibatnya ekonomi kita jadi tidak sehat," tegasnya.


A. Ainul Ghurri

 

Related items

back to top