Survei & Polling

(Foto: A. Ainul Ghurri)

 

Jakarta, Laporannews – Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survey pasca Pilkada DKI 2017. Survei SMRC melibatkan 1.350 responden yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Survei dilakukan pada 14-20 Mei 2017 dengan metode multistage random sampling dan margin of error kurang lebih 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden dipilih lewat wawancara tatap muka oleh pewawancara yang dilatih.

Dalam survei tersebut menyebutkan bahwa secara umum, kondisi politik nasional dianggap masih stabil dan tidak ada perubahan secara signifikan pasca Pilkada DKI 2017.

Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan mengatakan, sebanyak 28 persen responden menganggap kondisi politik saat ini cukup baik. Kemudian 35 persen lainnya menilai situasi politik cukup stabil pasca-pilkada DKI.

"Di bidang politik massa nasional menilai keadabannya sedang atau baik. Tidak banyak perubahan, bahkan yang mengatakan buruk lebih sedikit dibanding enam bulan lalu. Masalah di DKI sudah selesai. Ada dinamika di situ, memang iya. Tapi tidak mempengaruhi situasi nasional keseluruhan," katanya saat saat memberikan keterangan di kantor SMRC, Jl. Cisadane, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (8/06).

Selain itu, dalam survei tersebut juga menyebutkan bahwa kepuasan masyarakat terhadap jalanya demokrasi di Indonesia dianggap stabil. Hasilnya, 69 persen menyatakan puas, dengan perincian 65,4 persen merasa cukup puas dan 3,3 persen merasa sangat puas.

“Terhadap demokrasi, bukannya turun, tapi malah stabil. Kalau Pilkada DKI ada pengaruhnya, harusnya menurun. Tapi ini tidak. Jadi kita bisa menyimpulkan ini tidak ada pengaruhnya," imbuhnya.

Ia menjelaskan, masyarakat memilih sistem Demokrasi merupakan paling sesuai di negara Indonesia. “Jawabanya, walaupun tidak sempurna, Demokrasi dianggap paling sesuai sistem di Indonesia. Hasilnya, 74% menyatakan sesuai,” tuturnya.


A. Ainul Ghurri

 

(Foto: A. Ainul Ghurri)

 

Jakarta, Laporannews - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) kembali merilis hasil survei nasional terbaru terkait Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Negara Islam Iraq dan Syuriah (ISIS) di kantor SMRC, Jl. Cisadane, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (4/06/2017).

Dalam survei tersebut, telah melibatkan 1500 responden. Sementara, pengambilan data dilakukan pada 14 sampai 20 Mei 2017. Survei dilakukan ‎terhadap warga yang berumur 17 tahun atau lebih atau yang sudah menikah. Responden dipilih dengan cara multiple random sampling Margin of error survei yang dilakukan SMRC sebesar 2,7 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dari hasil survei tersebut menyebutkan, mayoritas masyarakat Indonesia masih mendukung bentuk NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Sekitar 79,3% menyatakan bahwa NKRI adalah yang terbaik di negara Indonesia. Sisanya, sangat sedikit masyarakat yang mendukung Indonesia berubah menjadi khilafah, yakni sekitar 9,2% untuk mendukung negara islam (khilafah). Sementara yang lainya, atau tidak menjawab dan tidak tahu hanya sekitar 11,5%.

“Hampir semua menyatakan bangga menjadi rakyat Indonesia. sangat bangga itu sangat besar. Dan hampir semua warga Indonesia tidak setuju dengan adanya ISIS di Indonesia,” kata pimpinan SMRC Saiful Mujani saat memberikan keteranganya di kantor, Jl. Cisadane, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (4/06).

Lebih lanjut, hasil survei SMRC juga menemukan bahwa 9 dari 10 (89,3%) rakyat Indonesia menganggap ISIS adalah ancaman NKRI. Selain itu, mayoritas responden tahu dengan nama ISIS. Namun, mayoritas tidak tahu saat ditanya apakah mereka tahu bahwa ISIS membawa ideologi khilafah.

"66,4 persen tahu ISIS. Sementara 33,6 persen tidak tahu. Angka ini cukup mengejutkan karena ISIS cukup populer disini. Di negara ini kan ISIS nggak resmi,” imbuhnya.

Namun, dosen Fisip UIN Syarif Hidayatullah itu mengingatkan, kesadaran (awareness) masyarakat terhadap ISIS belum di ikuti pengetahuan terkait cita-cita yang diperjuangkan ISIS. “Mayoritas warga belum aware bahwa khilafah atau negara Islam adalah cita-cita yang diperjuangkan ISIS. Kalau ditanya tahu atau tidak cita-cita ISIS adalah khilafah, mayoritas tidak tahu. Yang tahu 46,7 persen, sementara 53,3 persen tidak tahu,” tuturnya.

Sementara itu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga ditolak oleh masyarakat Indonesia. penolakan pada organisasi ini juga sangat tinggi.

“Dari 71,8% responden tidak tahu organisasi HTI dan 56,7% mengetahui HTI memperjuangkan gagasan khilafah di Indonesia. Kemudian 55,7% responden menyatakan menolak perjuangan khilafah mereka. Sementara dari 78,4% yang tahu niat pemerintah membubarkan HTI, sebanyak 78,4% menyetujuinya. Sedangkan yang menolak pembubaran HTI hanya 13,6%,” pungkasnya.


A. Ainul Ghurri

 

 

Jakarta, Laporannews – Lembaga survei Media Survei Nasional (Median) kembali merilis hasil survei soal elektabiltas bakal calon gubernur dan wakil calon gubernur Jawa Barat 2018. Dari hasil tersebut, walikota Bandung, Ridwan Kamil memimpin posisi teratas.

Survei tersebut, dilaksanakan pada tanggal 25 April sampai 3 Mei 2017. Populasi survei meliputi seluruh warga Jabar sebanyak 1.000 responden. Margin of error sebesar +/- 3 persen. Quality control dilakukan terhadap 20 persen sampel yang ada. Metode survei yang digunakan adalah multistage random sampling.

Direktur Eksekutif Lembaga survei Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun mengatakan, Lembaga Median mencatat elektabilitas kedua nama tokoh Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil bersaing di tingkat paling atas.

"Ketika kami tanyakan kepada responden, siapakah tokoh yang akan dipilih jika Pilkada Jabar dilakukan sekarang? Jawaban lima teratas responden antara lain Ridwan Kamil masih menempati urutan pertama, dengan 24,4 persen, disusul Deddy Mizwar 15,6 persen," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Laporannews. Sabtu (13/05).

"Riset ingin menguji kekuatan popularitas kandidat kader partai dan kandidat yang bukan kader partai," imbuhnya.

Namun, dalam survei Pilgub Jabar 2018 ini Median menemukan hal yang menarik. Nama tohoh agama masuk dalam survey Median yakni Aa. Gyim. Median mencatat urutan selanjutnya yaitu Dede Yusuf 11,6 persen, Aa Gym 7,5 persen dan Dedi Mulyadi 7,1 persen.

Menurutnya, untuk saat ini tingkat elektabilitas semua tokoh masih relatif flat. Lanjutnya, ia memperkirakan pertarungan masih akan ketat.

"Apalagi undecided voters masih 20,7 persen, ditambah waktu sosialisasi yang masih panjang," tuturnya.

Sementara, untuk beberapa partai yang memiliki pimpinan di DPRD antara lain PDIP, Gerindra, PKS, Golkar, dan Demokrat. Dari situ Median memilih beberapa kader partai yang telah beredar di media, kemudian dilihat popularitasnya di mata warga Jawa Barat

Dari sisi popularitas ditemukan bahwa di antara tiga besar kader PDIP, nama Rieke Diah Pitaloka menempati peringkat pertama, sebesar 78,3 persen. Disusul Puti Guntur Soekarnoputri sebesar 27,3 persen, dan TB Hasanudin 10,3 persen.

"Tidak mengherankan, karena Rieke Diah Pitaloka seorang artis dan pernah bertarung di Pilkada Jabar 2013 lalu," terangnya.

Median juga menemukan popularitas kader dari partai yang di tidak memiliki kursi pimpinan DPRD Provinsi Jawa Barat.

"Di antara kader PAN, nama Desy Ratnasari menduduki peringkat pertama dengan persentase 80,4 persen, disusul Bima Arya Sugiarto 24,5 persen. Sedangkan, nama UU Ruzhanul Ulum masih teratas popularitasnya dibanding kader PPP lainnya, dengan 26,1 persen," pungkasnya.

Berikut hasil survei elektabilitas cagub Jabar:

Jika pemilihan gubernur Jabar dilakukan saat ini, dari tokoh-tokoh berikut ini, siapakah yang akan anda pilih menjadi gubernur Jabar? Jika tokoh pilihan anda tidak ada dalam daftar, silakan sebutkan saja.

1. Ridwan Kamil 24,4 persen

2. Deddy Mizwar 15,6 persen

3. Dede Yusuf 11,6 persen

4. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) 7,5 persen

5. Dedi Mulyadi 7,1 persen

6. Rieke Dyah Pitaloka 3,6 persen

7. UU Ruzhanul Ulum 2,0 persen

8. Abdul Haris Bobihoe 2,0 persen

9. Entis Sutisna (Sule) 1,6 persen

10. Desy Ratnasari 1,2 persen

11. Bima Arya Sugiarto 0,8 persen

12. TB Hasanuddin 0,4 persen

13. Iwan Sulandjana 0,4 persen

14. Ineu Purwadewi Sundari 0,4 persen

15. Ade Barkah Surahman 0,4 persen

16. Haris Yuliana 0,2 persen

17. Netty Prasetyani Heryawan 0,2 persen

Sementara, respon yang belum memutuskan sekitar 20,7 persen. 


A. Ainul Ghurri

 

 

Jakarta, Laporannews – Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat baru akan berlangsung pada 2018. Namun, sejumlah nama tokoh besar sudah bermunculan sebagai calon cagub dan cawagub. Menurut survey Indonesia Strategic Institute (Instrat), ada 13 nama yang kini hadir meramaikan pencalonan untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat.

Mereka adalah Deddy Mizwar (94%), Dede Yusuf (89,7%), Desy Ratnasari (86,9%), Ridwan Kamil (80,4%), Rieke Diah Pitaloka (69,2%), Dedi Mulyadi (57,6%), Netty Heryawan (26,5%), Uu Ruzhanul Ulum (24,3%), Puti Guntur Soekarnoputri (19,3%), Bima Arya Sugiharto (18,3%), TB Hasanuddin (8,3%), Tate Qomarudin (6,1%), dan Haris Yuliana.

Dari ketiga belas nama calon tersebut, ada tiga nama kuat yang sudah populer, diantaranya Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, dan Dedi Mulyadi. Ridwan Kamil yang diusung oleh Partai Nasdem menjadi bakal calon gubernur Jawa Barat sedang mempertimbangkan siapa yang akan menjadi pasangannya nanti. Sementara itu, Deddy Mizwar disebut-sebut akan berduet dengan Dedi Mulyadi untuk bertarung pada Pilkada Jabar 2018.

Pencalonan Deddy Mizwar untuk menjadi gubernur Jawa Barat telah didukung oleh seluruh pimpinan Partai Gerindra kota/kabupaten se-Jawa Barat. Dukungan yang didekralasikan pada Senin malam (1/5/2017) berbarengan dengan Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Partai Gerindra di Jawa Barat.

“Hasil Rapimda Gerindra Jabar, sepakat seluruh unsur pimpinan di daerah se-Jabar mengusung Deddy Mizwar menjadi calon gubernur tahun depan,” ucap Bucky Wikagoe, Wakil Ketua Bidang Organisasi Kader dan Keanggotaan Partai Gerindra di Jakarta, Jumat (5/05).

Bucky mengatakan bahwa elektabilitas Deddy Mizwar akan mengantarkan partainya memenagkan pilgub Jawa Barat 2018 seperti pilgub DKI Jakarta yang sukses memenangkan Anies-Sandi. Terlebih saat ini Deddy Mizwar menjabat sebagai wakil gubernur Jawa Barat. Ia juga menuturkan bahwa Deddy Mizwar akan dipasangakan dengan Ketua DPD Partai Gerindra, Dedi Mulyadi. Keputusan tersebut sesuai dengan Rapimda partai.

“Di awal tidak mencalonkan, tapi karena ada dorongan dari kader, ya saya maju sebagai calon wakil. DPD cenderung lebih nyaman dengan Deddy, saya pun merasakan ada getar dengan beliau dibanding yang lain,” ucap Dedi Mulyadi.


Indah Putri Wahyuningsih

 

 

Jakarta, Laporannews – Kedua pasangan calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno terus merebut hari warga Jakarta lewat program yang mereka canangkan untuk membuat Jakarta lebih maju. Berbagai cara dilakukan kedua pasangan calon guna meraih dukungan penuh dari warga ibukota. Pertarungan sengit merebut kursi 1 DKI pada putaran kedua ini semakin terasa menjelang pilkada putaran kedua, 19 April 2017 mendatang.

Direktur Eksekutif Media Survey Nasional (Median), Rico Marbun menyebut bahwa pemilih Anies-Sandi lebih unggul dari pemilih Ahok-Djarot. Pemilih Anies-Sandi sebesar 49,8%.

"Sedangkan yang memilih pasangan Ahok-Djarot sebesar 43,5 persen, dan sisanya 6,7 persen belum menentukan pilihan," ucap Rico, di Jakarta, Senin (10/4/2017).

Rico menuturkan jika pemilih Anies-Sandi lebih banyak dikarenakan beberapa faktor. Pertama, Anies-Sandi antitesis sempurna dari Ahok-Djarot dari perspektif nonrasional atau emosional. Selain itu, persoalan agama, sopan santun, berwibawa, merakyat, dan peduli menjadi alasan tersendiri bagi warga Jakarta untuk memilih Anies-Sandi daripada Ahok-Djarot.

Sementara itu, Ahok-Djarot dipilih karena rasionalitasnya sebanyak 67,1%. Walaupun suara Anies-Sandi lebih tinggi dari Ahok-Djarot, namun elektabilitas dan tingkat profesionalitas Ahok-Djarot dalam memimpin Jakarta lebih disukai warga.

"Ketika kami ajukan pertanyaan terbuka kepada pemilih Ahok-Djarot, dengan meminta mereka menyebutkan alasan mengapa memilih, ternyata faktor-faktor rasional lebih dominan. Seperti, kinerjanya terbukti, bersih, programnya bagus, Jakarta lebih baik, berpengalaman, dan sebagainya," jelas Rico.

Berdasarkan survei Median, elektabilitas Anies-Sandi sebesar 49,8%, sedangkan elektabilitas Ahok-Djarot 43,5%. Sebanyak 6,7% responden tidak menjawab. Median mencatat elektabilitas Anies-Sandi naik 3,5%, sedangkan Ahok-Djarot naik 3,8% dibanding pada Februari 2017.

Median lalu menanyakan alasan responden memilih kedua pasangan tersebut. Hasilnya, ada 67,1% responden yang memilih Ahok karena alasan rasional, sedangkan 18,2% lainnya karena alasan emosional. Di sisi lain, ada 31,1% responden yang memilih Anies karena alasan rasional dan 60,4% karena alasan emosional. Alasan rasional misalnya kinerjanya terbukti dan berpengalaman, sedangkan alasan emosional antara lain tegas, peduli, seagama, dan merakyat.


Indah Putri Wahyuningsih

 

Jakarta, Laporannews – Lembaga Media Survei Nasional (Median) hari ini, Senin (10/04/2017), kembali merilis hasil Survei terbaru soal elektabilitas pasangan calon (paslon) Gubernur DKI Jakarta 2017 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Survei tersebut, bertema ‘Paradoks Perilaku Pemilih Pilgub DKI 2017: Adu Kuat Pemilih Rasional Vs Pemilih Emosional’ yang di selenggarakan pada 1-6 April 2017 dengan 1.200 responden dan dipilih menggunakan multistage random sampling dengan Margin of Error 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Menurut Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun mengatakan, paradoks muncul lantaran ada dua fenomena sangat kontras terhadap pasangan calon Gubernur DKI. Masyarakat Jakarta lebih banyak pemilih yang mengakui kompetensi dan hasil kinerja pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat selama memimpin DKI Jakarta. Di sisi lain, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno masih unggul secara elektabilitas.

Menurutnya, secara keseluruhan, penilaian positif yang cukup tinggi dari warga Jakarta terhadap kompetensi pasangan Ahok-Djarot dengan tingkat kepuasan kinerjanya, yakni mencapai 65,6 persen. Namun, ia menambahkan, tingginya kompetensi Ahok-Djarot dibandingkan Anies-Sandi di mata pemilih, tidak lantas berbanding lurus dengan tingkat elektabilitasnya.

“Ketika kami tanyakan kepada responden, pasangan mana yang akan Anda pilih menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nanti? Ternyata 49,8 persen responden memilih Anies-Sandi, sementara yang akan memilih Ahok-Djarot hanya 43,5 persen pemilih, sisanya sekitar 6,7 persen belum menentukan pilihan,” katanya di Jakarta, Senin (10/04).

Sementara, dari kategori dukungan per wilayah di DKI Jakarta, pasangan nomor urut 3 Anis-Sandi, sementara unggul di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Sedangkan pasangan nomor urut 2 Ahok-Djarot, hasil sementara unggul di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. Namun, Median tidak melakukan survei di wilayah Kepulauan Seribu.

Berikut data hasil survei Median kategori dukungan perwilyah:

Jakarta Barat      : Ahok-Djarot 47,2%, Anies-Sandi 47,8%

Jakarta Pusat     : Ahok-Djarot 60,2%, Anies-Sandi 33,5%

Jakarta Selatan  : Ahok-Djarot 37,9%, Anies-Sandi 55%

Jakarta Timur     : Ahok-Djarot 35,3%, Anies-Sandi 58,3%

Jakarta Utara     : Ahok-Djarot 48,9%, Anies-Sandi 41%

Kepulauan Seribu : -

Rico menuturkan, secara keseluruhan, 67,1 persen pemilih Ahok-Djarot dengan alasan rasional. Sementara sebanyak 18,2 persen memilih karena alasan emosional. Sementara, dari 100 persen pemilih Anies-Sandi, terdapat 22,4 persen yang memilih paslon nomor tiga itu karena agamanya sama.

"Secara total, ada 31,1 persen pemilih Anies yang memilih Anies karena alasan rasional dan ada 60,4 persen pemilih Anies-Sandi karena alasan emosional," tuturnya.

Dalam survei tersebut, terlihat bahwa tren elektabilitas Anies-Sandi mengalami peningkatan dari bulan Februari hingga April. Pada saat pencoblosan 15 Februari lalu, elektabilitas Anies-Sandi mencapai 39,97 persen. Pada 21-27 Februari, elektabilitas naik menjadi 46,3 persen. Dan pada 1-6 April mencapai 49,8 persen.

Sedangkan Median mencatat, elektabilitas Ahok-Djarot mencapai 42,96 persen pada 15 Februari yang kemudian turun pada 21-27 Februari mencapai 39,7 persen. Pada 1-6 April, elektabilitas Ahok-Djarot naik menjadi 43,5 persen namun masih di bawah Anies-Sandi.


A. Ainul Ghurri

 

 

Jakarta, Laporannews – Kemajuan teknologi khususnya di bidang media sosial membuat kedua pasangan calon yang sedang bertarung menduduki kursi nomor 1 di DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno memanfaatkan segala media untuk berkampanye. Mereka berlomba-lomba untuk menarik simpatisan warga Jakarta untuk memilih dirinya di Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang akan digelar pada 19 April mendatang.

Berdasarkan data terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA, mayoritas pemilih di DKI aktif di media sosial sebanyak 58,90 persen dengan 440 responden dengan metode multistage random sampling dan margin of error 4,8 persen. Hasil dari survei tersebut menyebutkan, Anies-Sandi unggul dari Ahok-Djarot di dua platform media sosial. Anies-Sandi unggul di media sosial Facebook dan Instagram.

"Dari total pengguna Facebook 57,80 persen, Anies-Sandi memperoleh dukungan sebesar 47,58 persen, unggul tipis dari Ahok-Djarot yang mendapat dukungan 43,93 persen. Begitu juga di media sosial Instagram, dari total 29,30 persen pengguna, sebesar 49,99 menyatakan dukungan untuk Anies-Sandi, sedangkan untuk Ahok-Djarot sebesar 40,73 persen," ujar peneliti LSI, Rully Akbar.

Pasangan calon nomor urut 2, Ahok-Djarot pun membuat akun instagram @ahokdjarot sebagai media berkampanyenya dalam blusukan online. Dalam akun tersebut, mereka akan mendengarkan keluh kesah warga Jakarta dan langsung menjawab segala pertanyaan yang diajukan oleh warga. Blusukan online akan berlangsung selama 1 jam.

"Nanti itu sama saja orang tanya, kalau WA kan nggak balas langsung, kalau ini kaya radio-lah, orang boleh tanya langsung. Kita kasih satu jam nanti, orang tanya kita jawab. Nanti kita lihat antara dua pola ini mana yang lebih bagus. Kalo nggak Ahok Show lebih bagus, itu kan tanya jawab kan, nanti kita gabung di Ahok Show," ujar Ahok

Berbeda dengan Ahok-Djarot, Anies-Sandi memakai strategi penggunaan tweet jahat dalam program kampanyenya di putaran kedua ini. Pasangan calon yang berciri kemeja putih dengan peci hitam ini gencar menggunakan media sosial guna meraup suara di pilkada DKI Jakarta. Program tweet jahat ialah sebuah video yang dibuat oleh tim Anies-Sandi untuk menjawab atau menanggapi beberapa unggahan tweet akun di media sosial yang menebar fitnah dan cacian ke Anies-Sandi. Video tersebut kemudian diunggah ke akun media sosial kampanye Anies-Sandi.

Selian itu, jurus yang digunakan Anies-Sandi adalah membentuk satgas anti-hoax. Satgas tersebut untuk menangkal maraknya kampanye hitam.

"Jadi kalau kita sekarang ini sedang kita siapkan satgas khusus anti-hoax. Ini untuk membuktikan, kalau tidak ada di website resmi kami, berarti hoax. Kita bilang daripada kita habis waktu untuk klarifikasi karena serangannya makin banyak, makanya kita terus tebar posting-posting positif dan kita imbau relawan kita untuk tidak larut dalam permainan olahan yang ditimbulkan oleh hoax ini karena akan menguras energi dan mengambil perhatian kita terhadap apa yang diperlukan warga Jakarta," ujar Sandiaga.

Pengamat komunikasi dari Universitas Indonesia Effendi Gazali menuturkan, Pilgub DKI Jakarta 2017 ini merupakan pilkada yang paling brutal di dunia maya."Apakah perang medsos itu mempengaruhi 450.000 suara yang 17%-nya diraih Agus-Sylvi pada putaran pertama dan 20% kelompok golput. Mereka bisa saja lelah, mungkin lebih efektif pakai opini positif. Pilkada kali ini bukan luber dari langsung umum bebas dan rahasia melainkan langsung umum dan brutal," kata Effendi Ghazali.


Indah Putri Wahyuningsih

 

Jakarta, Laporannews – Berdasarkan riset dan jajak pendapat lembaga survei Indo Barometer, lebih dari setengah rakyat Indonesia merasa senang dan puas atas apa yang dikerjakan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dari hasil itu, menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, sebanyak 57,8 persen masih menginginkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu kembali menjabat sebagai Presiden periode selanjutnya.

“Publik yang tidak ingin (Presiden Jokowi) kembali sebesar 26,7 persen, tidak tahu atau tidak jawab sebesar 15,5 persen,” analisa Qodari di Jakarta, Rabu (22/3), kemarin.

Survei itu mengulas, kenapa sebagian besar publik menyukai Jokowi, karena program-program Jokowi yang berkaitan dengan siklus pemerintahan, seperti proyek pembangunan, kesehatan, pendidikan, menjaga toleransi agama, pemberantasan narkoba, terorisme dan menjaga keadilan sosial di nilai masyarakat memuaskan.

Hasil survei itu juga menyatakan bahwa Jokowi menjadi nama yang paling banyak disukai dibanding nama-nama lain. Nama-nama calon presiden yang disebut publik, ternyata di dominasi oleh nama Joko Widodo (31,3 persen), Prabowo Subianto (9,8 persen), Basuki Tjahaja Purnama (8,3 persen), Anies Baswedan (4,5 persen), Ridwan Kamil (3,1 persen), Tri Rismaharini (2,8 persen), Megawati Soekarno Putri (2,7 persen), Gatot Nurmantyo (1,9 persen), Hary Tanoesoedibjo (1,2 persen). “Hasilnya Joko Widodo masih jauh menggungguli,” tutur Qodari memberikan komentar.

Beberapa alasan mengapa publik memilih Jokowi juga disebut. Mulai dari karena dekat dengan rakyat (22,4 persen), terbukti kinerjanya (18,8 persen), berjiwa sosial dan baik (9,3 persen), membawa perubahan (7,6 persen), berani (6,2 persen), jujur (5,1 persen), tegas (5 persen), sesuai parpol (4,1 persen), terkenal (3,1 persen), berwibawa (2,6 persen), pekerja keras (2 persen), dari militer (2 persen), taat beragama (1,1 persen), suka dengan figurnya (1 persen), pintar/intelektual (1 persen), bersih dari KKN (1 persen).

“Joko Widodo dipilih dengan alasan dominan dekat dengan rakyat, terbukti kinerjanya, berjiwa sosial dan baik, membawa perubahan, jujur, terkenal, pekerja keras. Prabowo Subianto dipilih dengan alasan dominan tegas, berwibawa, dari militer,” tegasnya.


Kalam Sanjaya

Jakarta, laporannews - Pilkada DKI Jakarta dipastikan berlangsung dua putaran setelah pasangan nomor urut dua dan tiga meraih hasil yang lebih tinggi dibandingkan pasangan nomor urut satu. Tentu hal ini makin meningkatkan animo para pemilih DKI Jakarta di putaran berikutnya.

 

Salah satu unsur politik praktis yang tidak bisa dilepaskan dari pemilihan umum adalah lembaga survei. Beberapa waktu lalu, Lembaga Media Survei Nasional merilis hasil temuannya yang menyebutkan elektabilitas pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat berada di kisaran 39,7 persen dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di kisaran 46,3 persen.

 

Kemana sisa suara itu? “14 persen responden lainnya masih undecided atau menyatakan belum memutuskan," ujar awak Median, Rico Marbun, saat rilis hasil survei bertajuk "Memahami Peta Kompetisi Putaran ke-2 Pilgub DKI" pada Senin (6/3/2017) lalu. Ia menyatakan, salah satu faktor mengapa suara nomor tiga naik, karena suara pemilih nomor urut satu, yakni pasangan Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni memilih beralih ke kandidat yang menyorongkan program OK OCE.

 

“Dari total responden, ada 13 persen yang pada putaran pertama mengaku pilih Agus-Sylvi. Saat kami tanyai lagi, siapa yang akan mereka pilih di putaran kedua, 35 persen atau satu per tiga dari 13 persen itu pilih Anies-Sandiaga, dilanjutkan 10 persen pilih Ahok-Djarot, sedangkan 55 persen selebihnya belum menentukan pilihan," tambah Rico menjelaskan.

 

Ia juga menganalisa, tren pemilih Basuki-Djarot, masih tetap dan dianggap loyal. Namun, meningkatnya Anies-Sandi, karena ada gelombang pemilih yang menciptakan suatu pemilihan asal bukan Ahok. ”Yang baru kita temukan alasannya adalah yang penting jangan Ahok, sebesar 25,9 persen, alasan yang kedua ini yang perlu kita amati karena belum pernah muncul pada survei sebelumnya," kata Rico.


A. Ainul Ghurri

 

 

(Foto: Website badmintonindonesia.org)

 

Jakarta, Laporannews – Wakil ganda putra Indonesia, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, sukses memenangkan atas Sri Lanka pada babak penyisihan grup B Asia Mixed Team Championships 2017, Rabu (15/2/2017). Angga/Ricky sukses memenangkan Sri Lanka dengan unggul 3-0.

Angga/Ricky berhasil menundukkan pasangan Sri Lanka, Dinuka Karunaratna/Niluka Karunaratne, dalam dua set langsung dengan skor 21-6 dan 21-13 hanya dalam 22 menit.

Angga/Ricky tampak menunjukkan keperkasaannya atas pasangan Sri Lanka tersebut di sepanjang pertandingan. Bahkan, kedua pasangan Indonesia itu tampil garang dengan memenangkan set pertama dengan skor 21-6. Pada set kedua, dua pasangan itu semakin mendominasi permainanya. Hasilnya, Angga/Ricky mengamankan set ketiga dengan skor 21-13 dan membawa Indonesia unggul 3-0 atas Sri Lanka.

Kesuksesan Angga/Ricky, memastikan Indonesia memenangkan pertandingan grup B melawan Sri Lanka. Meski begitu, partai keempat dan kelima yang memainkan ganda putri serta campuran, akan tetap dilangsungkan.


Edy Yunus

 

Page 2 of 11

Tentang Kami

Alamat Redaksi Pusat

STC Senayan Building

Ruang 31-34, 4 Floor

Jln. Asia Afrika Pintu IX

Gelora Senayan, Jakarta Pusat 10270

Phone: (+62-21) 5793 1879

Fax: (+62-21) 5793 1880

redaksi@laporannews.com

 

 

Last posts

Berlangganan