Wednesday, 21 September 2016 00:00

Analis Politik Timur Tengah: ISIS Akan Habis

Written by  Redaksi

Ali Munhanif

Peneliti Senior PPIM UIN Jakarta

Dosen Perbandingan Politik FISIP UIN Jakarta

 

“ISIS Akan Habis”

 

Jakarta, laporannews - Kondisi Timur Tengah makin memperihatinkan pasca adanya kelompok teroris ISIS. Apalagi konflik yang terjadi antar negara yang tidak berkesudahan. Hal tersebut seakan terjadi berangsur-angsur, berawal dari revolusi yang terjadi di Tunisia, Mesir, hingga runtuhnya rezim penguasa Libya pada akhir 2012.

 

 

Kondisi ini lalu, dianalisis berbagai pihak, menggambarkan suatu fenomena yang disebut sebagai Arab Spring. Arab Spring disebut juga oleh beberapa analis politik Timur Tengah sebagai upaya menjalankan proyek demokratisasi di Timur Tengah yang barang tentu mempunyai muatan-muatan politis dan ekonomi demi melanggengkan dominasi kekuasaan tertentu.

 

Suriah dan Yaman adalah  negara yang masih mengalami konflik tersebut. Rentetan demi rentetan konflik seakan tak pernah menemui klimaksnya. Bahkan yang pada akhirnya malah terjadi korban dari rakyat sipil atas perang yang tidak berkesudahan. Dampaknya adalah Timur Tengah makin kacau.

 

Belum lama ini, Turki yang masih satu jazirah Arab, juga diguncang kasus kudeta. Ada upaya kudeta yang dilakukan oleh beberapa oknum militer Turki dalam rangka meruntuhkan rezim Erdogan dari kursi kekuasaannya. Apakah memang benar demikian atau gejolak di Turki adalah bagian dari rentetan konflik di Timur Tengah?

 

Untuk mengetahui lebih jauh hal itu, wartawan laporannews.com Muhammad Reza mewawancarai analis perbandingan politik Timur Tengah dari UIN Jakarta, Ali Munhanif. Berikut perbincangan dengan  lulusan doktroral McGill University Montreal Canada, di kantornya, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta:

 

 

Bagaimana Anda mengamati pergolakan Timur Tengah Saat ini yang dilanda Arab Spring?

Saya kira mengamati proses Arab Spring yang terjadi pada awal 2012 lalu bergulir sampai adanya berbagai perbedaan-perbedaan hasil dari proses itu, ada yang rezimnya tumbang seperti Mubarak di Mesir dan Khadafi di Libya, kemudian ada yang jatuh menjadi perang saudara, ada yang status quo seperti yang terjadi di Bahrain dan Yaman. Nah, saya kira Timur Tengah akan menjadi status quo. Jadi akan ada muncul rezim-rezim baru dan boleh jadi memakai pola-pola baru seperti pemerintahannya sedikit demokratis tapi tidak sepenuhnya demokratis.

 

Memang sulit membayangkan rasanya Timur Tengah muncul sebagai salah satu kawasan yang demokratis sebagaimana kita di Indonesia. Begitu ada perubahan rezim, lalu tidak terbentuk lagi demokrasi seperti kita. Status quo itu berarti, negara-negara merdeka paska perang Dunia  II masih oke. Masih ada Mesir, masih ada Suriah, Irak lalu kemudian Israel, Palestina masih bergolak juga terkait dengan perdamaian dan kemanusiaan dan seterusnya.

 

Jadi civil war dan perang saudara di Suriah sekarang ini akan menemukan titik temu. Pertama-tama adalah keharusan negara-negara bangsa termasuk Barat dan Eropa, jauh lebih baik menyisihkan egonya untuk menumbangkan Assad, tapi kemudian menyelesaikan masalah ISIS. Nah, ISIS sekarang ini saya kira menjadi problematik, meskipun sudah ditumpas di beberapa tempat termasuk Palmyra, Raqqah, lalu juga di Ramadi tapi dia masih bertahan di Mosul.

 

Belakangan ada pergerakan ke arah utara untuk menguasai Sirte di Libya dan seterusnya. Menurut saya, masih menjadi agenda penting dalam proses stabilisasi di Timur Tengah sekarang ini, karena itu saya masih percaya bahwa daripada prefrensi utama itu adalah membiarkan Assad tetap berkuasa tetapi meminta untuk demokratis, akan tapi pada waktu yang sama, Assad dan Barat mengatasi juga masalah ISIS bersama-sama.

 

Saya kira ISIS akan terdepak, akan tumbang dengan satu atau dua kali serangan Barat, dan saya kira ISIS akan habis. Sekarang ini selain Sirte yang masih berjuang, tinggal Mosul (Irak) yang masih bertahan di pemerintahan ISIS. Mosul adalah tempat deklarasi pertama kali kira-kira dari Baghdad 200 kilometer, dan saya kira masih menjadi persoalan apa yang akan ditempuh oleh negara Barat dalam menyelesaikan masalah ISIS.

 

Efek Arab Spring yang lain tentu saja kudeta Turki, saya kira Turki terimbas Arab Spring, semata mata bukan masalah kudetanya tetapi bagaimana pemerintahan Erdogan itu mengalami semacam goncangan karena peran-peran strategis Turki dalam menyelesaikan persoalan Timur Tengah, khususnya ketika Amerika menggunakan pangkalan Turki untuk menyerbu ISIS misalnya. Tetapi Suriah juga akan mempunyai problem dengan orang-orang pemberontak.

 

Di antara yang melawan Suriah adalah Kurdi. Nah, sementara Kurdi di dukung oleh Eropa, oleh Barat untuk menumbangkan Assad tetapi dia tidak didukung oleh Turki, nah disitu kemudian saya kira gejolak Turki sangat serius karena pada saat yang dia harapkan bahwa dia juga bisa menyelesaikan dalam negerinya dan dia mengatasi Kurdi, tetapi Eropa dan Barat justru mendukung Kurdi untuk melawan Assad, disitu ada semacam konflik segitiga yang saya kira tidak mudah bagi Turki.

 

Nah, disitu ancaman kepada pemerintahan Erdogan saya kira, sudah lama dan saya tidak tahu kudeta yang terjadi pada 2 atau 3 minggu yang lalu itu betul-betul menjadi sesuatu yang sangat serius di mata Erdogan atau tidak. Dan kalau kita melihat langkah-langkahnya, sekarang ini dengan cepat dia menangkap, menahan lalu kemudian mengeksekusi orang-orang yang terlibat, tidak hanya militernya tetapi juga civil society, birokrasi, kehakiman, kepolisian dan seterusnya.

 

Apa termasuk pendidikan juga?

Iya, pendidikan akhirnya semuanya menunjukan ini rupanya ancaman serius dan tidak akan muncul tanpa fenomena Arab Spring, jadi sudah terencana, melihat ini saya menangkap bahwa jika Erdogan salah melangkah dalam menyelesaikan kudeta itu bukan tidak mungkin akan mengalami hal yang dialami Mesir, Suriah, Irak dan Yaman juga Libya, tapi mudah-mudahan tidak begitulah. Saya kira Erdogan akan mengambil langkah-langkah yang juga bijak dalam mengatasi ini daripada krisis terus berlanjut.

 

Ada yang mengatakan kudeta Turki rekayasa Erdogan, menurut Anda?

Saya kira bila di desain oleh Erdogan, tidak ada perang intelejen antara kelompok-kelompok yang bertikai  di dalam pemerintahan antara pendukung Erdogan dan orang-orang yang secara diam-diam melakukan oposisi. Kita harus ingat bahwa Erdogan sudah lama di intai oleh kelompok-kelompok oposisi termasuk yang katakanlah terpengaruh oleh Gullen dan kaum liberal, misalnya tanggal 14 terjadi demonstrasi di Gozipak, yang saya kira untuk menunjukan bahwa pertama kali Erdogan menghadapi protes sosial dan akhirnya di tindas di belakang rumah, begitu juga tuduhan-tuduhan beberapa pihak bahwa Erdogan korupsi, anak korupsi, nah sebenarnya ada serangkain yang cukup lama.

 

Dalam proses perang intelejen inilah Erdogan lalu memanfaatkan kudeta, ya mungkin saja tidak dalam pengertian di desain, tapi mungkin dia tahu atau apalah. Dia merasa ada kudeta sehingga oposisi ini sudah sedemikian jauh melangkah, sehingga dia harus membuat langkah-langkah antisipasi seandainya ada kudeta. Sehingga kudeta menjadi, dan memang merupakan langkah kudeta dari oposisi yang tidak menyukai Erdogan. Nah masalahnya memang orang boleh berdebat bagaimana mungkin kudeta sedemikan cepat, disitu sebenarnya perang intelijen. Nah, dugaan saya ada yang ngojok-ngojokin atau apa lalu kemudian militer mengambil langkah itu.

 

Faktanya sekarang militer, saya menganggap bahwa kudeta tidak serius, mengapa? Karena orang yang ditangkap saja itu ribuan, hampir enam ribu pasukan tentara, artinya kalau kudeta berhasil, dia betul-betul bisa mendirikan sebuah pemerintahan yang siap untuk menggantikan pemerintahan yang lama, lalu kemudian kelompok yang dicurigakan sebagai yang terlibat, entah langsung atau tidak langsung, ada 140 Dekan, bukan dosen tapi dekan yang dipecat, ada yang ditangkap, lalu kemudian pengadilan, kepolisaan itu menunjukan bahwa mungkin saja Erdogan merasa akan di kudeta lalu dia membiarkan itu sebagai percobaan yang sudah di antisipasi.

 

Kemudian, mungkin juga dia sudah mempunyai daftar orang-orang yang menjadi oposisi selama ini, dan dengan sangat mudah, cepat bahkan ekstrem langkah-langkah untuk memukul balik kekuatan kudeta menjadi cepat. Punya daftar-daftar orang yang siap ditangkap saat itu. Kalau sengaja di desain Erdogan, saya kira, itu terlalu beresiko saya kira sebagai negara yang stabil, ekonominya baik dan tidak ada alasan Turki mengalami krisis, tidak ada alasan sebenarnya, tetapi perang internal di antara rezim di dalam tubuh rezim, itu tampaknya yang tidak di antisipasi.

 

Namun sehabis kudeta sikap Erdogan semakin protektif, mengapa?

Yang terjadi saya kira Erdogan terlalu gegabah sampai dia masuk dalam jebakan politik tumpas habis. Sebuah konflik politik habis-habisan, you yang hidup atau saya yang hidup, you yang mati atau saya yang mati, saya kira itu sangat berbahaya karena faktanya kalau kita amati, orang-orang yang mengikuti Gullen itu, saya tidak percaya Gullenisme sebagai ideologi, tapi mungkin sebagai inspirasi, nilai-nilai dan sebagainya. Itu mereka semua faktanya menguasai berbagai sturuktur politik birokrasi sosial kultural Turki, jadi itu kaya semacam nilai-nilai ke Turki-an Islam yang memang tidak ingin berpolitik tapi menjiwai hampir pola hidup masyarakatnya. Jadi kaya protestanisme yang nilai-nilainya itu diejawantahkan dalam berbagai organisasi, inspirasi dan seterusnya, tetapi tidak ingin berpolitik.

 

Karena itu dia sebagai pengikut Gullenis ya mungkin saja mengagumi, ingin membaca karyanya lalu kemudian dan seterusnya. Tapi dia kan sudah masuk birokrasi dan seterusnya, saya kira kalau Erdogan mengambil langkah-langkah yang cukup ekstrem, justru dia sedang menghancurkan diri sendiri, khususnya hampir di struktur negara hampir di kuasai oleh kelompok Gullen, bukan secara politik ya, tapi mereka punya semangat untuk membela Gullens, nah disitu, Erdogan harus berhitung panjang kalau sampai habis-habisan. Jangan-jangan malah memukul balik diri dia sendiri.

 

Kami dengar pemerintah Turki dibawah Erdogan meminta UIN Jakarta untuk menutup lembaga yang diindikasikan mereka terlibat Gullen. Bagaimana tanggapan Anda?

Nah semacam itulah, jadi paling dalam langkah-langkah politik Erdogan yang ekstrem tadi ialah, keinginan dia untuk membubarkan sekolah militer, akademi militernya akan dibubarkan. pertanyaan normal sajalah, Anda mendapat tentara dari mana? Dia akan membuat semacam universitas pertahanan, tapi militer bukan hanya masalah pertahanan, dia memang harus berlatih dan seterusnya, umumnya sekolah militer ya akademi misalnya dia tidak bisa dicampur dengan keinginan untuk memasukan demokrasi ke dalam dia betul-betul defence.

 

Lalu yang kedua ialah keinginan dia untuk memberangus semua hal yang berhubungan dengan Gullen itu ditutup, misalnya saja adalah sekolah-sekolah pendidikan, yayasan, pengajaran, civil society yang ada di Turki untuk tutup. Sejauh di Turki oke, kita bisa terima, tapi di dunia? Di Indonesia kabarnya ada semacam tekanan dari pemerintah Turki kepada Kementerian Pendidikan untuk menutup sekolah-sekolah yang mungkin di inspirasi dari Gullen, saya kira itu keterlaluan dan berlebihan.

 

Berlebihan dalam pengertian sebuah sekolah meskipun dipengaruhi oleh politik luar negeri, begitu ada disini ya tetap saja, tetap saja, menjadi sekolah nasional Indonesia, kurikulumnya, pengajarannya, pengajaran civic educationnya pasti Indonesia. Kurikulum tadi tidak membahayakan sama sekali dan harus tahu Gullenis itu bukan Indonesia yang sekolah-sekolah itu, justru Indonesia termasuk terakhir, sekolah-sekolah seperti Kharisma Bangsa itu muncul di Ceko juga, muncul di Georgia, begitu Soviet kolaps dan Yugoslavia kolaps, sekolah Gullen itu yang pertama mengelola kekuatan masyarakat disitu dengan mendirikan sekolah.

 

Sekarang sudah kemana-mana. pada waktu Tsunami Aceh, sekolah Gullen membangun sekolah, memberi hibah, di Melapo atas sponsor Gullen, masa kita harus menutup mata, bagaimana? Kan ini sudah milik nasional, kalau Erdogan terus menuntut untuk menutup sekolah ini, ya terkesan intervensi terhadap negara lain dan itu secara politik internasional tidak dibenarkan.

 

Ada yang berpendapat bahwa dibalik konflik Timur Tengah itu ada kepentingan Amerika dengan Rusia. Menurut Anda?

Disini sebenarnya Timur Tengah menjadi semacam percobaan bagi negara-negara luar. Sudah lama sebenarnya timur tengah ini terjebak dalam civil war, perang proksi antara Amerika, Eropa dan Rusia. Masa perang dingin, Uni soviet dan seterusnya. Dari persenjataan, pelatihan, kekuatan militer dan seterusnya. Nah, ketika perang dingin selesai, nampaknya negara-negara ini belum cukup kuat untuk menopang dirinya sebagai sebuah negara yang berdaulat.

 

Untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi, termasuk menyelesaikan masalah konflik, membangun negara, membangun demokrasi, keadilan, masalah ekonomi dan seterusnya, sehingga tetap saja mereka mengandalkan kekuatan dunia. Nah, disitu Soviet-Rusia sering sekali mendorong negara-negara yang anti-Amerika atau anti-Israel masuk dalam situ, disitu mengapa lewat Iran dia bisa mengintervensi Suriah lalu kekuatan-kekuatan non negara misalnya Hizbullah, Hamas dan seterusnya.

 

 Houti yang menentang rezim yang sah dan seterusnya. Nah, disitu berhadapan dengan kelompok-kelompok seperti Saudi Arabia, Mesir, yang mungkin juga Israel, yang juga ditopang dan di dukung oleh Amerika dan Uni Eropa.Yang menjadi ganjalan saya sebenarnya ini adalah sejauh konflik-konflik riil di Timur Tengah ini belum terselesaikan termasuk tentang kedaulatan Palestina di kawasan itu, boleh jadi Amerika dan Eropa dan Rusia tetap saja terlibat dalam perang proksi yang sekarang ini terjadi.

 

 Nah dengan masuknya Cina, khusunya di Suriah dan beberapa negara seperti Saudi dan lain-lain itu, saya kira semakin menambah kompleksitas negara-negara itu tidak mampu untuk berdiri untuk mengatasi masalah yang dihadapi.  Disitu yang saya bayangkan adalah sulit membayangkan Timur Tengah yang independen dalam pengertian mengolah sumber ekonominya maupun khususnya kalau ekonomi minyak masih mendominasi kehidupan ekonomi masyarakat dunia, tetap saja negara itu berkepentingan untuk terus terlibat dalam perang proksi.

 

Sejauh ini Turki berada di posisi mana?

Yang kompleksitas Turki itu sebenarnya menjadi sangat apa ya, sangat sulit untuk ditolak karena dia sangat strategis. Karena ini negara modern, demokrasi relatif tidak memiliki konflik yang signifikan dengan kelompok-kelompok yang anti-Israel, bahkan dia mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Posisinya sangat dekat dengan Eropa, bahkan dia anggota NATO, tetapi dia punya problem yang saat ini belum selesai yakni masalah etnis, nasionalisme, agama dan politik, disitu yang saya bayangkan bahwa Turki sangat rentan dimasuki berbagai masalah. Seandainya terjadi konflik, misalnya masalah ISIS, tentu saja dia sangat pro ISIS karena ISIS juga melawan Kurdi.

 

Dalam konteks melawan Kurdilah, Turki dan ISIS bersama, harapannya adalah agar memberi pelajaran pada masyarakat Kurdi untuk tidak mendorong terlalu jauh perang ini sebagai upaya untuk mendirikan negara merdeka, Kurdistan melawan Turki, nah itulah nilai strategis Turki. Nah disitulah Turki bertabrakan dengan Eropa maupun Amerika. Nah yang kita amati sekarang inikan Turki seperti bermain mata antara menumpang dengan ISIS dan saya kira satu sisi dia juga terlibat dalam menumpas ISIS, tetapi juga tidak ingin masyarakat Turki, gerakan kemerdekaan Kurdi itu mempunyai angin untuk melawan Suriah untuk melawan ISIS dan untuk melawan Turki nantinya.

 

Saya kira Turki seperti dua mata pedang. Sebagai anggota NATO dia harus ikut dalam menumpas ISIS, tapi sebagai negara yang mempunyai keamaman tersendiri, dia harus bekerja sama dengan ISIS, satu level dua level mungkin akan terjadi misalnya ditengarai orang-orang yang terluka dari ISIS dibawa ke Turki. Saya kira tidak ada benarnya tapi bisa di mengerti kalau itu diambil Turki.

 

Apa bisa disebut bahwa Amerika, Saudi, Mesir adalah pro Israel dan Rusia, Suriah, Iran pro Palestina?

Tidak sesederhana itu dan tidak selinier itu. Pada dasarnya sejauh Israel masih mendominasi, maka kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas, Hizbullah dan Suriah sangat mungkin bekerja sama. Dari mana kerja sama ini, ya kita bisa melihat dari Iran, dimana retorika anti Israelnya ini sangat tajam. Karena Iran, maka Rusia mempunyai pintu masuk untuk bekerja sama dengan orang-orang itu.

 

Tapi sebenarnya Rusia juga sudah lama bekerja sama dengan Suriah dalam hal militer dan mempunyai pangkalan militer di Suriah, di laut dan seterusnya. Dan saya kira sangat strategis ya bagi Rusia untuk menancapkan kukunya disana, kalau dia sampai melepas Suriah, katakanlah Suriah mengalami demokratisasi dan tidak memihak lagi pada Rusia, bukan tidak mungkin Rusia betul-betul mengalami kehancuran ekonomi, karena dia tidak mempunyai akses minyak dan seterusnya.

 

Disitu saya kira Rusia bermain mata dengan kelompok-kelompok yang anti Israel tapi saya kira pada waktu yang sama, Rusia di satu sisi bekerja sama dengan Israel dalam beberapa hal untuk menggalang kekuatan. Pada tingkat itulah sebenarnya, Amerika juga begitu, Eropa juga begitu, sejauh kepentingan-kepentingan nasionalnya tidak terganggu dari berbagai proses politik antara Suriah dengan Israel, saya kira, Uni Eropa masih men-support Israel.

 

Bagaimana penjelasan Anda menjawab sebagian orang yang mencoba menyederhanakan bahwa konflik Timur Tengah sebagai konflik Sektarian?

Saya kira itu kekeliruan besar, menyederhanakan bahwa konflik Timur Tengah itu sebagai konflik sektarian, dimana rezim Syiah membantai, menindas kelompok-kelompok Sunni dan lain-lain. Saya kira itu keliru karena faktanya Hamas adalah orang-orang Sunni, tetapi Hamas sama sekali tidak diberi pintu kerjasama seperti  dengan Saudi Arabia, Mesir, Yaman dan seterusnya. Disitu perang antar sekte sebenarnya tidak begitu meyakinkan, menurut saya, ya bahwa ini chaos, lalu kemudian muncul dari situ.

 

Bagaimana analisis Anda ke depan terkait Timur Tengah dengan fenomena ISIS-nya?

Dengan adanya ISIS, kasus Turki dan seterusnya itu akan membuat kita semakin terdorong untuk tahu banyak tentang apa sih yang melandasi perbedaan konflik tadi. Karena pada dasarnya lebih dari konflik sektarian dan identitas keagamaan. Konflik Timur Tengah betul-betul menggambarkan sebuah peta kemanusiaan yang sangat dalam. Ini sebuah kawasan warisan perang dunia II. Kalau terjadi perubahan tentu akan mengubah tata pola kehidupan dunia sekarang ini, begitu juga sumber-sumber minyak yang ada disana.

Ada kepentingan-kepentingan raksasa di balik itu, seperti kapitalisme dan perang dagang dan seterusnya di antara itu. Memiliki industri kompleks dan seterusnya itu semua ada disana. Jadi untuk menuntut kita tahu lebih dalam, apa yang terjadi sebenarnya di Timur Tengah, ketika pengetahuan Timur Tengah kita mendalam, tentu kita tidak akan terseret pada konflik-konflik yang tidak produktif, termasuk melihat bahwa konflik Timur Tengah cuma sektarian tadi, yang kemudian bisa saja membuat sebagian masyarakat kita terdorong untuk masuk ke dalam konflik tersebut.***


 

Tentang Kami

Alamat Redaksi Pusat

STC Senayan Building

Ruang 31-34, 4 Floor

Jln. Asia Afrika Pintu IX

Gelora Senayan, Jakarta Pusat 10270

Phone: (+62-21) 5793 1879

Fax: (+62-21) 5793 1880

redaksi@laporannews.com

 

 

Last posts

Berlangganan