Monday, 15 May 2017 00:00

Antara Ahok, Anthony dan Indonesia

Written by  Jaya Suprana

(Foto: Twitter Jaya Suprana @Kelirumologi)

 

Jakarta, Laporannews - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dinyatakan bersalah dengan melakukan penistaan agama, sehingga Ahok dijatuhi hukuman selama 2 tahun penjara. Akibat dari penahanan Ahok, negara dan rakyat Indonesia dihujat sebagai negara yang rasis, intoleran, anti pluralis, dikriminatif serta aneka ragam keburukan lain-lainnya oleh dunia internasional.

Hal itu dikarenakan media asing yang sibuk memanfaatkan kasus Basuki Tjahaja Purnama sebagai "bad news is good news" demi menghujat bangsa, negara dan rakyat Indonesia yang selalu dengan sengaja menyebutkan bahwa Basuki Tjahaja Purnama adalah "Christian" dan "Chinese" demi menonjolkan kesan bahwa bangsa Indonesia adalah rasis, intoleran, anti pluralis dan diskriminatif.

Di sisi lain, yang lepas dari sorotan media internasional akibat tergolong "good news". Pada malam hari 12 Mei 2017, seorang remaja warga Indonesia usia 14 tahun penyandang tunanetra merangkap autis bernama Michael Anthony yang kebetulan juga Nasrani dan keturunan Chinese di Indonesia yang kini wajib disebut sebagai Tionghoa, telah menjunjung tinggi kehormatan bangsa, negara dan rakyat Indonesia dengan mempergelar resital piano tunggal legendaris dan bersejarah di panggung gedung kesenian paling bergengsi di planet bumi masa kini, yakni Sydney Opera House, di Sydney, New South Wales, Australia.

Panggung resital piano tunggal yang bertajuk “The Miracle of Sound”, tersebut, Michael Anthony mempergelar karya-karya George Friederich Haendel, Ludwig van Beethoven, Felix Mendelssohn, Franz Liszt, Claude Debussy, Alberto Ginastera, Jaya Suprana dengan sedemikian indah. sehingga ia memperoleh sambutan standing ovation yang tak kunjung henti dari para hadirin dengan memadati ruang resital Utzon Room, Sydney Opera House.

Michael Anthony yang Kristen dan keturunan China adalah seorang pianis remaja warga Indonesia kebanggaan Indonesia binaan warga Indonesia bernama Jaya Suprana yang juga kebetulan Nasrani dan keturunan China serta murid Ivana Chandra yang juga kebetulan Nasrani dan keturunan China di bawah naungan Jaya Suprana School of Performing Arts di bawah pimpinan direktur Aylawati Sarwono yang keturunan Chinese dibantu manajer Fitri Syafrida yang umat Islam dan suku Batak, dengan staf terdiri dari berbagai suku yang mayoritas Islam.

Secara kebetulan, peristiwa Michael Anthony yang mendapatkan gelar resital piano tunggal legendaris di Sydney Opera House secara khusus diliput oleh jurnalis senior Indonesia, Sonya Hellen Sinombor yang berasal dari wilayah Manado dan beragama Kristen.

Sebagai warga minoritas berlipat ganda serta merangkap penyandang tunanetra dan autis, Michael Anthony dapat mengembangkan bakat langka sedemikian dahsyat di bumi Indonesia bisa dikatakan mustahil apabila bangsa Indonesia rasis, intoleran, anti pluralis, diskriminatif.

Kegemilangan resital piano tunggal "The Miracle of Sound" yang dipergelar di panggung Sydney Opera House oleh Michael Anthony sebagai warga Indonesia umat Christian dan keturunan Chinese atas dukungan semangat Bhinneka Tunggal Ika para warga Indonesia dengan aneka ragam latar belakang ras, suku dan agama yang merupakan fakta tak terbantahkan yang lugas, jelas dan tegas membuktikan bahwa bangsa Indonesia bukan rasis, intoleran, anti pluralis, diskriminatif.

Marilah kita semua yang masih cinta Indonesia bersatu padu melawan angkara murka fitnah yang sedang ganas dihunjamkan ke bangsa, negara dan rakyat Indonesia. Sambil gegap gempita bersorak sorai “Jangan Fitnah Bangsaku!”

 

Jaya Suprana

Pendiri Yayasan Pendidikan Seni Jaya Suprana School Of Performing Arts

Tentang Kami

Alamat Redaksi Pusat

STC Senayan Building

Ruang 31-34, 4 Floor

Jln. Asia Afrika Pintu IX

Gelora Senayan, Jakarta Pusat 10270

Phone: (+62-21) 5793 1879

Fax: (+62-21) 5793 1880

redaksi@laporannews.com

 

 

Last posts

Berlangganan