Friday, 05 May 2017 00:00

Ini Peluang BUMN yang Bergerak di Tol Laut

Written by  Redaksi

(Foto: Dok. djakarta lloyd.co.id)

 

Jakarta, Laporannews - Visi Presiden Joko Widodo yang menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia telah ditegaskan melalui pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar. Tentunya, untuk mewujudkan poros maritim dunia, pemerintah bekerja keras dalam menggenjot berbagai pembangunan di bidang kemaritiman khususnya di bidang kelautan.

Pada 26 Oktober 2016, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah melepaskan kapal perdana tol laut yang menghubungkan jalur pelabuhan Tanjung Priok dan pulau Natuna. Jalur tol laut tersebut, bisa menghemat waktu dan disparitas harga sebesar 30% untuk membawa barang-barang pokok maupun logistik. Program tersebut, pada waktu itu sebagai prioritas utama Kementerian Perhubungan, sehingga aspek dalam bidang kelautan harus selalu di kencangkan dalam program pengembangan sebuah industri dan perdagangan lokal.

Belum lama ini, pemerintah telah meresmikan kapal roll on roll off (Roro), Jumat (28/04/2017). Peresmian kapal tersebut, untuk konektivitas jalur perdagangan antara Indonesia-Filipina yakni dari pelabuhan Davao-Bitung dan sebaliknya. Hal itu menunjukkan bahwa poros maritim dunia telah dimulai dari Asean yang selanjutnya akan menghubungkan konektivitas Benua Asia sampai dunia.

Di sisi lain, keseriusan pemerintah dalam menghubungkan poros maritim dunia memberikan angin segar bagi perusahaan swasta dan perusahaan BUMN dibidang transportasi logistiknya. Tentunya, visi poros maritim dunia membuat peluang dan kesempatan yang akan didapat perusahaan tersebut. Sehingga, perusahaan tersebut harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan keuntungan yang melimpah. Sebut saja perusahaan BUMN di bidang transportasi logistik yaitu PT. Djakarta Lloyd.

PT. Djakarta Lloyd merupakan perusahaan BUMN yang bergerak dibidang pelayanan angkutan kargo kontainer dan curah berbasis transportasi kapal laut. Perusahaan yang diangkat menjadi BUMN pada tahun 1961 ini pernah menjadi BUMN pengakutan kargo kontainer dan curah yang terbaik pada masanya di tahun 1970-1980an. Namun itu semua berubah ketika open sea policy diterapkan, yang membuat Djakarta Lloyd kalah saing dalam kemampuan usaha dan kapasitas SDM membuat perusahaan ini hampir bangkrut, setelah berbagai rangkaian aksi penahanan aset oleh debitur dan pengajuan gugatan pailit. Pada tahun 1990 perusahaan BUMN itu mengalami penurunan. Karena pada waktu itu, banyak kapal-kapal asing yang boleh masuk oleh pemerintah Indonesia untuk bebas mengangkut barang ekspor dan impor.

Perusahaan ini, didirikan di Tegal oleh veteran TNI AL pada setengah dekade setelah Indonesia merdeka, perusahaan ini awalnya diperkuat oleh 2 kapal uap, yaitu SS Jakarta Raya dan SS Djatinegara. Perusahaan ini diangkat menjadi Pelayaran Nasional (PN) pada tahun 1961 berdasarkan PP No. 108 tahun 1961 yang membahas tentang perubahan status usaha dari NV menjadi PN. Pada awal operasinya, Djakarta Lloyd menggunakan charteran kapal angkut kargo curah, yaitu SS Djakarta Raya dan SS Djatinegara dan kedua kapal tersebut, akhirnya dibeli untuk mendukung kegiatan operasional Djakarta Lloyd. Seiring dengan perluasan jaringan sandar-labuh kapal, armada Djakarta Lloyd berkembang pesat hingga mencapai 22 kapal pada tahun 1970-an dan jangkauan sandar-labuh Djakarta Lloyd berkembang hingga menuju Eropa, Asia dan Australia. Kini PT Djakarta Lloyd telah kembali sehat dan melanjutkan pelayarannya.

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia telah menetapkan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan internasional. Selanjutnya, pada tahun ini tepatnya bulan Agustus 2017, pemerintah juga akan menetapkan pelabuhan internasional di Kuala Tanjung.

Hal ini menunjukkan bahwa peluang dan kesempatan PT. Djakata Lloyd semakin besar untuk mengembangkan bisnis transportasi logistiknya. Sehingga, dengan adanya dua pelabuhan internasional tersebut, diharapkan perusahaan tersebut, mampu mengelola bisnisnya demi kemajuaan perusahaan dan BUMN. Tentunya, jika BUMN makmur dapat dipastikan kesejahteraan bangsa Indonesia bisa terjamin jika proses dan regulasinya dilakukan secara adil.

Selain itu, pemerintah juga telah mendatangkan beberapa kapal raksasa seperti Compagnie Maritime d'Affretement - Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM) dengan rute pelayaran Indonesia-Los Angles (Amerika Serikat). Kapal tersebut berasal dari perusahaan Perancis yang berkapasitas 8.500 TEUs dengan panjang 334 meter.

Dengan kedatangan kapal raksasa tersebut, tentunya disparitas harga akan dilakukan oleh pemerintah, sehingga pembiayaan logistik akan semakin murah. Peluang tersebut, menjadi perhatian bagi PT. Djakarta Lloyd untuk bisa berekspansi dibidang logistiknya, sehingga kesempatan itu akan dimanfaatkan oleh PT. Djakarta Lloyd.


A. Ainul Ghurri

Tentang Kami

Alamat Redaksi Pusat

STC Senayan Building

Ruang 31-34, 4 Floor

Jln. Asia Afrika Pintu IX

Gelora Senayan, Jakarta Pusat 10270

Phone: (+62-21) 5793 1879

Fax: (+62-21) 5793 1880

redaksi@laporannews.com

 

 

Last posts

Berlangganan